Pada 24 Agsustus 1946 : Lahirlah seorang puteri dari pasangan J.Praptohandojo dan Roekimah di Salatiga yang diberi nama Aloysia Sri Sulastri , sebagai anak kelima dari enam bersaudara.
05 April 1947 : Sri Sulastri dipermandikan di Saltatiga dan diberi nama Aloysia.
29 Agsustus 1954 : Sri Sulastri menerima sakramen krisma di Salatiga .
05 November 1976 : Panggilan Tuhan menyentuh hati Sri Sulastri dan memantapkan hasratnya masuk biara Kongregasi SND di Pekalongan.
20 Desember 1977 : Sri Sulastri diperkenankan menerima busana biara sebagai Suster SND dan menerima nama biara: Suster Miryam.
12 Desember 1979 : Sr. Miryam diperkenankan mengikrarkan kaul pertama. Memasuki masa yunioratnya, dengan tugas pertama yang diterimanya Admistrasi RSU Budi Rahayu .
13 Mei 1987 : Sr. Miryam mengikrarkan kaul kekal sebagai SND.
12 Desember 2004 : Suster merayakan pesta 25 tahun serah setia.
Di dalam kehidupan sehari-hari Sr.Miryam seorang yang tekun, disiplin, gembira dan taat. Ibu Maria yang menjadi model, penopang hidup serta teladan hidup Suster selalu menjiwai dan memberinya inspirasi yang terwujud didalam karya-karya perutusannya. Suster selalu berusaha menyenangkan para suster di Komunitas dan ia suka menolong orang-orang kecil. Sore hari sebelum meninggal Sr.Miryam telah merencanakan menghadiri Misa peringatan 2 tahun meninggalnya Bapak Sumardi, tetapi batal karena merasa tidak enak badan.
Kamis, 21 September 2017 : Tepatnya pada pukul 18.00 Suster dipanggil Tuhan
Sr. Miryam memiliki kedalaman doa dan devosi kepada Bunda Maria. Di dalam mengalami penderitaan Suster tidak pernah mengeluh, dan dengan semangat kesederhanaannya suster menampilkan kegembiraan, baik didalam komunitas, perutusan dan di dalam perjumpaan dengan sesama.

