Tidak semua orang mengenal saya, tetapi perjalanan panjang saya di Sekolah Notre Dame menjadi bagian penting dalam cerita hidup saya. Saat ini saya bekerja sebagai staf Tata Usaha di SD Notre Dame Puri Indah, dan sudah mengabdi sejak 27 September 1990, hampir 35 tahun yang penuh warna. Ketika saya mulai bekerja, banyak dari yang hadir saat ini bahkan masih belum lahir. Bahkan, ketika Sr. Yanitha, SND baru berusia dua tahun, saya sudah berkegiatan di Notre Dame.
Pada tahun pelajaran 1990/1991, jumlah siswa SD hanya 147 anak, 76 laki-laki dan 71 perempuan. Kepala Sekolah kami saat itu adalah Sr. Maria Elisa, SND. Saya tinggal bersama para Suster di Perumahan Puri Indah Blok F1 No. 23, sebuah rumah tusuk sate yang waktu itu menjadi kediaman para Suster seperti Sr. Maria Yosefa, SND (alm.), Sr. Marsela, SND Sr. Maria Elisa, SND dan Sr. Maria Nikoline, SND..jpeg)
Setiap hari kami berjalan kaki menuju sekolah. Puri Indah masih jauh dari gemerlapnya saat ini. Belum ada mal, belum ada gedung Walikota, rumah sakit, atau gedung TK, SMP, SMA, bahkan Biara Notre Dame pun belum berdiri. Waktu itu yang ada hanyalah pos satpam, bangunan SD, dan Aula Suster Aloysia. Selebihnya? Tanah kosong… dan kerbau-kerbau yang bebas berkeliaran.
Di Tata Usaha, saya ditemani oleh Sr. Eufrasia, SND yang saat itu belum menjadi Suster. Setiap sore, kami berjalan kaki mengantarkan makanan untuk para satpam karena masakan dikirim dari Biara. Saya sering bercanda pada Sr. Eufra, “Suster, jangan pakai baju merah, nanti dikejar kerbau!” Pembayaran uang sekolah pun sangat berbeda dari sekarang. Tidak ada virtual account. Semua dilakukan tunai, dicatat menggunakan kartu biru, dan saya ketik manual "cethak, cethok, cethak, cehok" karena belum ada komputer.
Puji Tuhan, perjalanan panjang itu membuat Sekolah Notre Dame semakin maju dan dipercaya masyarakat. Saat ini, jumlah siswa SD mencapai 531 anak—258 laki-laki dan 273 perempuan. Pertumbuhan ini menjadi bukti bahwa Notre Dame terus berkembang dan dipercaya orang tua.
Sering kali orang bertanya, apa yang membuat saya betah bekerja hampir 35 tahun? Jawaban saya sederhana: Suster-Susternya baik dan ramah, Yayasan juga baik, dan kerjasama antar guru dan karyawan begitu kuat, kompak, saling menghormati, dan penuh kepedulian. Lingkungan inilah yang membuat saya merasa “krasan” hingga hari ini.
Ada juga seseorang yang tidak boleh dilupakan, sosok yang setiap hari mengantar dan menjemput saya dengan setia: suami saya, Pak Haryanto. Terima kasih, Beb. Dalam pengalaman bekerja di Tata Usaha, saya pernah menghadapi berbagai orang tua yang marah-marah. Ada yang marah karena lupa mengambil rapor, ada yang tak puas dengan nilai matematika, ada pula yang belum menemukan nama anaknya di papan pengumuman karena administrasinya belum lengkap. Namun, saya belajar satu hal: "Ketika orang tua marah, kita dengarkan dulu. Jangan ikut marah. Ajak bicara baik-baik. Percayalah, kemarahan itu tidak akan berlangsung lama."
Saya berharap seluruh guru dan karyawan yang berada di ruangan ini dapat menemukan kenyamanan, ketulusan, dan semangat yang sama seperti yang saya alami hingga bertahan dan mengabdi hingga masa pensiun.Saya pribadi, dan mewakili rekan-rekan yang purna bakti, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Yayasan Notre Dame Jakarta, Yayasan Santa Maria (tempat kami bergabung saat pertama masuk), para Suster SND, serta seluruh guru dan karyawan atas kerjasama yang hangat dan luar biasa selama ini.
Di usia ke-12 ini, semoga Yayasan Notre Dame Jakarta semakin maju, semakin berkembang, dan semakin dipercaya masyarakat. Kiranya semakin banyak orang tua yang mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Sekolah Notre Dame. Soli Deo
By Valentina Mujiyah, S.Pd